Seminar Internasional : Urban Public Transport Perfomance in ASIAN Countries

Pada hari Selasa, 5 Agustus 2014 diadakan Seminar Internasional dengan tema  Urban Public Transport Perfomance in ASIAN Countries. Hadir 6 pembicara dari 5 negara, yaitu :

  1. Ir. A. Wicaksono, M.Eng, Ph.D (Indonesia)
  2. Dr. Eng. Iv Lim (Kamboja)
  3. Prof. Dr. Kasem Choocharukul (Thailand)
  4. Dr. Eng. Van Hong Tan (Vietnam)
  5. Prof. Dr. Tetsuo Yai (Jepang)
  6. Dr. Suzuki (Jepang)

Acara seminar tersebut dimoderatori oleh Ir. Ludfi Djakfar, MSCE, Ph.D dari Teknik Sipil Universitas Brawijaya Malang dan dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan, antara lain mahasiswa S1, S2 dan S3 Teknik Sipil UB, Dinas Perhubungan, Kepolisian Malang, dosen Teknik Sipil UB dan lain-lain.

Materi dapat di download pada link di bawah ini:

  1.  Indonesian Urban Transit Performance
  2. Urban Public Transport in Cambodia
  3.  Multivariate Analysis of Customer Satisfaction – A Case Study of Bangkok’s MRT
  4. A review on public transport performance in 3 southern provinces of Vietnam
  5. Performance of Urban Public Transport in Japan
  6. Urban Transport Solution

Jembatan Betek Butuh Rp 800 Juta Lagi

radar-malang0001

PROYEK mulia pembangunan secara swadaya Jembatan Betek-Tembalangan akan bisa dituntaskan dalam waktu dekat. Syaratnya, tentu saja ada kesadaran dan kepedulian untuk membangun jembatan rangka baja dengan biaya yang berasal dari kantong warga tersebut.

Kepedulian untuk menyelesaikan pembangunan proyek yang diinisiasi Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB) dan Jawa Pos Radar Malang itu, kini sudah mulai meningkat. Pada 11 Juli lalu misalnya, ada dana masuk ke rekening BCA atas nama Radar Peduli untuk Jembatan Betek. Jumlah dana yang masuk adalah Rp 100 juta. Nama penyumbangnya tak disebutkan Jumlah sumbangan besar tanpa menyebut nama penyumbang ini bukan yang pertama kalinya masuk ke rekening BCA Radar Peduli.

Pembelian Kerangka Baja Menunggu Swadaya Warga

Pada 16 Mei lalu juga masuk sumbangan sebesar Rp 200juta. Total, dengan adanya tambahan dana sebear Rp 100 juta tersebut, jumlah dana yang masuk untuk kebutuhan pembangunan jembatan adalah Rp 627,27 juta. Anggaran itu masih jauh dan jumlah dana yang dibutuhkan.

Untuk penuntasan proyek mulia tersebut diestimasikan membutuhkan dana sekitar Rp 1,4miliar. ltu artinya masih ada kekurangan Rp 800 juta. Kekurangan anggaran ini lah yang harus ditanggung renteng bersama-sama warga Malang untuk menyelesaikan proyek swadaya pembangunan jembatan rangka baja pertama kali di Indonesia tersebut.

Jika warga Kota Malang berhasil menyelesaikan proyek swadaya tersebut, maka jembatan itu nantinya bisa menjadi jalur alternatif untuk mengurai kamacetan dijalan Soekarno-Hatta. Apalagi, pada tahun depan, rencananyaJembatan Soekarno-Hatta (Soehat) sisi timur akan dibongkar.

Saat ini, pembangunan Jembatan Betek-Tembalangan sendiri sudah menuntaskan dua selimut fondasi jembatan, yakni di sisi utara dan selatan. Tim FT UB juga sudah menuntaskan pengerjaan kepala jembatan(tumpuan fondasi yang dijadikan landasan kerangka baja). “Pengerjaannya sudah selesai. Tinggal finishing saja,” ujar mandor pekerja Arifin, saat ditemul di lokasi pembangunan Jembatan Betek-Tembalangan, Sabtu (12/7) kemarin.

Dan pantauan Jawa Pos Radar Malang, kayu landasan jembatan sudah dicopot. Di sisi timur disisakan dua batang kayu memanjang untuk memudahkan pejalan kaki. Namun, untuk kendaraan bermotor, sudah tidak bisa melintas.

Menurut Arifin, pencopotan kayu landasan sebagai persiapan pemasangan kerangka baja. Hingga kini, tim dan FT UB belum berani memesan kerangka baja lantaran dana swadaya dan masyarakat belum cukup. Diperkirakan, kerangka baja jembatan saja membutuhkan dana sekitar Rp 800 juta. Arifin mengatakan, lantaran proses pengerjaan banyak yang rampung, kini pihaknya hanya menunggu pengeringan cor-coran kepala jembatan. Untuk pengeringannya, diperkirakan membutuhkan waktu 21 hari.

Sedangkan ketua tim pembangunan Jembatan Betek-Tembalangan Ir Sugeng P. Budio MS mengatakan, hingga kini dia belum berani memesan kerangka baja jembatan lantaran anggaran pembangunan belum tersedia. “Kami berharap, segera ada bantuan dan warga untuk pengadaan kerangka baja,” harap Sugeng. (dan/cl/fir)

Sumber: Jawa Pos Radar Malang terbit Minggu 13 Juli 2014 hal. 25 dan 35

Jembatan Betek Dibongkar, Rangka Baja Segera Dipasang

betek2

Panitia Kesulitan Anggaran, Butuh Rp 1,4 M, Terkumpul Rp 520 Juta

MALANG KOTA- Proyek mulia pembangunan Jembatan Betek Tembalangan yang diprakarsai Jawa Pos Radar Malang bersama Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FTUB) terus menunjukkan progress. Kemarin (5/7), tim mulal membongkar jembatan. Pembongkaran jembatan dilakukan karena proses pengerjaan dasar sudah selesai. Di antaranya pembangunan dua selimut fondasi. “Mulai ngecor kepala jembatan landasan rangka baja di atas selimut fondasi,” ujar Ketua Tim Pembangunan Jembatan dari FT UB Ir. Sugeng P. Budio, MS kemarin.

Dana Lancar, Jembatan Bisa Selesai 2 Bulan Lagi

Sebelum mengecor kepala jembatan, lanjutnya, kerangka jembatan lama harus dibongkar. Pembongkaran kerangka besi hingga pengecoran diperkirakan membutuhkan waktu satu minggu. Dengan penuntasan pengecoran kepaia jembatan, kata dia, berarti kerangka baja jembatan baru siap dipasang. Tapi hingga kini Sugeng belum berani memesan kerangka baja jembatan lantaran anggaran pembangunan belum tersedia. Sebab, dan dana Rp 1,4 miliar untuk pembangunan jembatan yang dibutuhkan, saat ini baru terkumpul anggaran Rp 520 juta.

Semua dana yang dikumpuikan ini berasal dan swadaya masyarakat. “Kami berharap segera ada bantuan dan warga untuk pengadaan kerangka baja,” ucap pria yang juga Ketua Jurusan Teknik Sipil FT UB itu. Jika anggaran dan masyarakat mencukupi, Sugeng berjanji mampu menuntaskan secepatnya. Sebab, pembangunan selimut fondasi yang pengerjaannya membutuhkan waktu paling lama, sudah tuntas. Pembangunan jembatan bentang 4,5 meter yang saat ini dibangun hanya membutuhkan waktu 3-4 hari.

Untuk memasang kerangka baja hingga finishing, Sugeng menargetkan dua bulan. Dengan demikian, jembatan yang diyakini mampu mengurai kemacetan di Jalan Soekarno-Hatta tersebut bisa segera difungsikan. Selama proses pembongkaran jembatan, lanjut Sugeng, Jembatan Betek-Tembalangan tidak bisa dilintasi pejalan kaki.

Dengan demikian, warga Kelurahan Jatimulyo maupun Kelurahan Penanggungan yang kesehariannya melintasi jembatan, selama pengerjaan harus rela berputar.

Tapi jika ingin membangun jembatan alteratif, Sugeng mempersilahkan. Pihaknya siap membantu teknis pembangunan jika warga berminat. Hanya saja, untuk kebutuhan material dan tenaga kasar, Sugeng meminta bantuan wanga.

Sugeng mengatakan, pihaknya tidak mungkin membantu warga membuatkan jembatan alternatif, karena pembangunan Jembatan Betek-Tembalangan sendiri masih membutuhkan dana. “Harapan saya, ada partisipasi aktif dan warga untuk membuat jalan alternatif bambu,” katanya.

Sebagaimana dibenitakan, peletakan batu pertama pembangunan Jembatan Betek-Tembalangan di-launching 30 April lalu. (dan/fir)

Sumber: Jawa Pos Radar Malang terbit Minggu 6 Juli 2014 hal. 25 dan 35

Proyek Mulia Jembatan Betek Tinggal Pasang Kerangka Baja

betek

MALANG KOTA – Penuntasan proyek mulia pembangunan jembatan Betek-Tembalangan yang digarap Jawa Pos Radar Malang bersama Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB) sejak 30 April lalu, tinggal menghitung hari saja.

Sebab pembuatan selimut fondasi jembatan di sisi utara dan selatan jembatan sudah tuntas. Tahap berikutnya tinggal pemasangan kerangka baja.

Bentang Jembatan Tuntas 7 Hari Lagi

Hanya persoalannya, dana yang digalang untukpembuatan jembatan yang diperkirakan menelan biaya Rp 1,4 miliar itu belum mencukupi. “Kami belum berani memesan kerangka baja karena dibutuhkan dana sekitar Rp 760 juta,”  ujar ketua tim pembangunan Jembatan Betek Tembalangan Ir. Sugeng P. Budio MS, Rabu (2/7) kemarin.

Dan pantauan di lapangan, tim sudah menuntaskan pengerjaan dua selimut fondasi jembatan, yakni selimut sisi utara dan selatan. Pengerjaan kedua selimut fondasi itu menghabiskan waktu sekitar dua bulan. Pengerjaan selimut fondasi di sisi selatan menghabiskan waktu lebih lama, karena sulitnya medan.

Untuk membuat bendungan sebagai dasar pembangunan selimut sisi selatan, pekerja harus memanggul material dan sisi utara jembatan dengan menyeberang sungai menuju sisi selatan jembatan. Hal itu dilakukan karena material jembatan hanya bisa diletakkan di sisi utara. Namun saat memasang selimut, pekerjaan lebih ringan karena material bisa dijatuhkan dan atas jembatan ke bawah. “Hari ini (kemarin, Red), pengerjaan kedua selimut fondasi sudah selesai,” kata Sugeng yang juga menjabat Ketua Jurusan (kajur) Teknik Sipil UB itu.

Dia berharap, dana yang dibutuhkan segera terkumpul. Sambil menunggu terkumpulnya dana, Sugeng bersama tim akan mengerjakan jembatan bentang 4,5 meter di sisi utara. Bentang jembatan itu yang dijadikan landasan kerangka baja, agar daya tahan jembatan semakin kuat. “Setelah itu, baru dilanjutkan pembesian,” kata dia.

Pengerjaan bentang jembatan 4,5 meter dan pembesian tidak membutuhkan waktu Jama. Untuk penyelesaian bentang jembatan itu, diperkirakan tuntas tujuh hari. “Untuk pembesian, sekitar tiga hingga empat han,” kata dia.

Untuk diketahui, pembangunan Jembatan Betek-Tembalangan tidak hanya menjadi jalan tembus bagi warga Jatimulyo yang menuju ke kawasan Jalan Ijen, Jalan Veteran, dan menuju pusat Kota Malang. Namun, juga mengurai kemacetan di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta. Apalagi saat Jembatan Soehat dibongkar, Jembatan Betek Tembalangan menjadi solusi jitu untuk mengantisipasi ancaman kemacetan di kawasan Jalan Soekarno-Hatta.

Penggarapan Jembatan Betek-Tembalangan juga seiring dengan program Pemkot Malang yang menyiapkan jalur alternatif guna mengurai kernacetan di kawasan Jalan Seokarno-Hatta. Ada dua lokasi yang dilirik pemkot sebagai jalur alternatif pengurai kemacetan, yakni Jalan Candi Panggung dan kawasan Sudimoro. (dan/c2/abm)

Sumber: Jawa Pos Radar Malang terbit Kamis 3 Juli 2014 hal. 29 dan 39

Engineering Society School 2014

sekra

Satu lagi pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Kali ini dengan mengangkat tema berbagi kepada yang membutuhkan, mahasiswa Fakultas Teknik UB bekerja sama dengan Bapak Eko Andi Suryo dari Teknik Sipil dan Fakultas Kedokteran UB mengadakan Engineering Society School 2014 atau biasa disebut sekolah rakyat di Panti Asuhan Sunan Giri Tlogomas.  Kegiatan yang juga merupakan salah satu pengaplikasian dari tri dharma universitas ini selain bertujuan untuk mengabdikan diri dalam bidang pendidikan, juga merupakan bentuk bakti mahasiswa Fakultas Teknik UB.

Acara yang berlangsung setiap hari Jum’at dan Sabtu sore ini dibuka oleh Fikri Eka Pambudi, mahasiswa jurusan Teknik Industri selaku Ketua Panitia,  M. Ilham Akbar, mahasiswa Jurusan Teknik Sipil perwakilan dari BEM, bapak Dr. Slamet Wahyudi, ST., MT selaku Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan, dan Ketua Panti Asuhan Sunan Giri Bapak M. Romadlon pada tanggal 14 Juni 2014.

Proses jalannya acara cukup lancar, dengan persiapan ± 1minggu, panitia dapat menyajikan beberapa acara menarik dan bermanfaat, diantaranya Fun Study English, Fun Study Matematika, Games Tebak Makanan Favorit dan Tebak Kata, Membuat model jembatan rangka baja dari stik es krim, Penyuluhan Kesehatan, Motivasi, dan ESQ. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memotivasi serta menghibur anak-anak panti asuhan Sunan Giri Tlogomas.

Pada tanggal 30 Juni 2014, bertempat di Panti Asuhan Jl. Raya Tlogomas Barat 49 B, Malang, acara ini secara resmi ditutup dengan sambutan oleh Ketua Pelaksana, Ketua BEM, PD III, dan penyerahan Piagam dari pihak panitia kepada Ketua Panti Asuhan Sunan Giri, Bapak M.Romadlon. Dengan berakhirnya acara ini diharapkan agar tetap dilanjutkan dengan perbaikan dalam segi teknis maupun lapangan. (mic)

sumber: teknik.ub.ac.id