Ditulis pada tanggal 13 November 2014, oleh Teknik Sipil FTUB, pada kategori Kliping Surat Kabar

rapat-nama-1

Nama Baru Kiai A. Fattah Diresmikan 22 November

MALANG KOTA – Jembatan BetekTembalangan sudah berevolusi total. Jembatan yang awalnya reyot, kini sudah berubah menjadi jembatan baja yang superkokoh. Sebab sudah berevolusi, maka jembatan tersebut bakal berubah nama menjadi jembatan Kiai A. Fattah.

Kiai A. Fattah diambil dari seorang kiai kharismatik di Betek. Perubahan nama tersebut  merupakan hasil kesepakatan dari Pemkot Malang, warga Kelurahan Jatimulyo (Kecamatan Lowokwaru), Kelurahan Penanggungan (Kecamatan Klojen), Universitas Brawijaya (UB) Malang, dan Jawa Pos Radar Malang.

Pemkot Tunggu Karya Swadaya Lainnya

Rapat perubahan nama jembatan dilakukan kemarin (12/11) di ruang rapat Fakultas Teknik UB yang dihadiri pejabat dan tokoh masyarakat. Dalam rapat tersebut dihadiri Rektor UB Prof Dr Ir Mohammad Bisri MS, Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad, Dekan FT UB Dr Ir Pitojo Tri Juwono MT, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Pengawasan Bangunan (DPUPPB) Jarot Edy Sulistyono, Camat Lowokwaru Rustamaji, Camat Klojen Rino, Lurah Penanggungan Fauzan Idra Saputra, dan perwakilan dari dua kelurahan, yakni Jatimulyo dan Penanggungan.

Perubahan nama rencananya bakal di-launching  pada saat peresmian jembatan yang rencananya bakal dilakukan pada Sabtu, 22 November 2014, pukul 09.00. Usulan nama Kiai A. Fattah itu sendiri berawal dari usulan Jarot Edy Sulistyono. Usulan tersebut langsung disepakati oleh warga maupun peserta rapat lainnya.

Dalam rapat kemarin, Bisri memaparkan kronologi sejarah jembatan yang menghubungkan dua kecamatan itu.

Awal perombakan total jembatan tersebut asalnya dari keluhan warga sekitar jembatan. Saat melintas, kondisi jembatan keropos dan membahayakan. Karena mendengar keluhan warga itu lah, Bisri yang saat itu menjabat sebagai Dekan FT UB berinisiatif untuk mengajakJawa Pos Radar Malang untuk membangun Jembatan Betek-Tembalangan. Untuk  masalah dana, disepakati dengan cara melakukan swadaya.

Untuk desain konstruksinya, lanjutnya, yang digunakan adalah rancangan jembatan mahasiswa UB yang memenangkan Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) Baja 2013. “Jadi, hasil karya mahasiswa tersebut direalisasikan dalam bentuk nyata,” ucap Bisri.

Tim KJI tersebut beranggotakan Arie Prayogi, Danny Zuan Afrizal, Erwin Widya Anggiantoro, dan Ferry Kustiawan. Mereka didampingi oleh dosen pembimbing Christin Remayanti.

Sedangkan Kurniawan Muhammad mengatakan, tuntasnya pembangunan jembatan ini sebagai wujud kepedulian UB terhadap masyarakat. Kum, sapaan akrab Kurniawan Muhammad mengatakan, selama ini perguruan tinggi (PT) terkesan hanya menjadi menara gading. “Namun keberadaan UB sudah memberi manfaat bagi warga,” kata pria asal Jombang itu.

Dia juga bersyukur dengan tuntasnya pembangunan jembatan. Awalnya dia sempat khawatir jika pengerjaan jembatan terhambat dana. Sebelumnya, saya kok belum pernah dengar ada jembatan sekelas itu (premium) digagas kampus, media massa, dan masyarakat,” ucap Kum.

Sementara itu, Kepala DPUPPB Jarot Edy Sulistyono mengatakan, dia sudah mengecek ke seluruh Indonesia. Hasilnya, Jembatan Betek-Tembalangan yang segera berubah nama tersebut merupakan jembatan rangka baja pertama kali yang dibangun secara swadaya. “Memang baru kali ini ada jembatan baja dibangun swadaya. Ini luar biasa,” ujar Jarot.

Jarot merasa bebannya ringan, karena masyarakat ikut membantu. Sebab, tugas DPUPPB adalah membangun infrastruktur seperti jalan dan jembatan. “Saya tunggu karya lainnya,” harap Jarot. (dan/c2/fir)

Sumber: Jawa Pos Radar Malan terbit 13 November 2014 hal. 25 dan 35