Ditulis pada tanggal 28 April 2014, oleh Teknik Sipil FTUB, pada kategori Kegiatan

ali-yusa

Pada hari Kamis, 24 April 2014, diadakan Seminar Nasional Temu Ilmiah Mahasiswa Teknik Indonesia (TIMTI) XVII di Auditorium Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB). Seminar ini menggambil tema “Peran Sarjana Teknik di Masa Depan”. Hadir dalam acara ini Dekan FT-UB Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS., Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan FT-UB Dr. Slamet Wahyudi, ST., MT., Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FT-UB M. Ilham Akbar, dan perwakilan mahasiswa-mahasiswa teknik dari seluruh Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Teknik Indonesia (PMTI).

Setelah diperjuangkan selama kurang lebih 20 tahun dan akhirnya disahkan oleh pemerintah dan DPR tanggal 25 Februari 2014 lalu, Undang-Undang No. 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran yang memberikan landasan dan  kepastian hukum bagi penyelenggaraan Keinsinyuran yang bertanggung jawab berlaku mulai tanggal 25 April 2014 hari ini. Undang-Undang yang digagas oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII) ini salah tujuannya adalah untuk memberikan perlindungan kepada Insinyur di Indonesia dan produk-produknya. Demikian disampaikan oleh Sekretaris PII Jawa Timur Ir. Ali Yusa pada saat memberikan materi dalam seminar tersebut. Menurut Ali, dampak dari diberlakukannya UU No.11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran ini adalah Sarjana Teknik dan Insinyur di Indonesia mendapatkan perlindungan dari invasi luar negeri. Mengingat tahun 2015 merupakan tahun dimulainya Asean Economic Community. “Diberlakukannya UU Keinsinyuran mendukung peningkatan pendapatan bruto pemerintah, pendapatan gaji Insinyur, dan peningkatan infrastruktur dalam negeri,” tambah pengajar di Universitas Muhammadiyah Surabaya ini.

Ia berharap UU No.11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran dapat segera disosialisasikan di lingkungan pendidikan. Termasuk di dalamnya bagaimana cara mendapatkan gelar Insinyur yang menjadi gelar profesi dan tetap bisa diperoleh Sarjana Teknik melalui sertifikasi portofolio/pengalaman kerja (Insinyur Profesional) di Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

Sementara itu, Dekan FT-UB, Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS mencermati kebutuhan lulusan Sarjana Teknik yang terus meningkat. Ia mencontohkan di India jumlah lulusan Sarjana Teknik memenuhi sekitar 10% dari total populasi di India, di Indonesia, jumlah lulusan Sarjana Teknik hanya 5% dari total jumlah penduduk. Namun, kebutuhan akan lulusan Sarjana Teknik ini tidak diimbangi dengan sarana ruang yang memadai. “Kita menghadapi dilema dimana kita dibutuhkan untuk meningkatkan jumlah lulusan Sarjana Teknik namun tidak diimbangi dengan sarana ruang yang mencukupi,” kata Dekan.

Selain itu, lanjut Dekan, masa studi mahasiswa teknik yang terlalu lama juga menjadi kendala tersendiri. Ia pernah berdiskusi dengan Dirut Pertamina Karen Agustiawan yang juga pernah menjadi tenaga pengajar di Amerika Serikat bahwa proses pendidikan sarjana di Amerika Serikat dan sekitarnya hanya memakan waktu 3,5 tahun. Untuk mendapatkan gelar magister, hanya perlu menambah waktu 1,5 tahun lagi. Sebagai perbandingan, rata-rata mahasiswa kita membutuhkan waktu 6,5 tahun untuk mendapatkan gelar magister.

“Kita dituntut untuk berkompetisi dengan AFTA, target kita adalah mahasiswa teknik lulus tidak lebih dari 4 tahun,” papar guru besar FT-UB ini.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Seminar Nasional TIMTI XVII Faisol Umar saat ditemui di acara mengatakan kegiatan ini rutin diadakan tahunan oleh PMTI. Kebetulan untuk tahun ini FT-UB mendapatkan kesempatan untuk menjadi tuan rumah. Tampak hadir dalam acara ini perwakilan mahasiswa teknik dari Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Surabaya, Universitas Cenderawasih (Uncen), Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Aceh, Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Negeri Gorontalo (UNG), dan lain sebagainya.

Selain menghadirkan Ir Al Yusa, seminar ini juga menghadirkan Andira Geoputra ST., M.Eng dari Forum Anggota Muda Persatuan Insinyur Indonesia (FAM PII) Kota Batu serta entrepreneur sekaligus dosen Jurusan Teknik Sipil FT-UB Eko Andi Suryo, ST., MT., PhD sebagai pemateri. (andi)

Sumber: teknik.ub.ac.id