Ditulis pada tanggal 17 Juni 2014, oleh Teknik Sipil FTUB, pada kategori Kliping Surat Kabar

jembatan betek 2MALANG KOTA – Tim Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) tancap gas menuntaskan proyek mulia Jembatan Betek-Tembalangan. Usai menuntaskan pembangunan selimut fondasi jembatan di sisi utara, kemarin melanjutkan pembangunan di sisi selatan jembatan hasil swadaya itu. Puluhan pekerja tampak mengeruk dasar Sungai Brantas, lalu dibuatkan pagar dari bambu. Tujuannya, membendung air agar tidak masuk ke kawasan yang bakal dibangun selimut fondasi di sisi selatan.

Warga Suka Rela Rumahnya Dikepras

Pembuatan pagar bambu itu merupakan tahap awal sebelum selimut fondasi digarap. “Kalau tidak dibuat bendungan, airnya menganggu pekerja,” ujar Arifin, mandor proyek pembangunan jembatan hasil kerja sama Jawa Pos Radar Malang bersama FT UB, Sabtu (14/6) kemarin.

Jika pembangunan selimut fondasi sisi utara menghabirkan waktu sekitar satu bulan, pembangunan selimut sisi selatan diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama. Arifin memproduksi, selimut fondasi di sisi selatan membutuhkan waktu dua bulan.

Dari hasil pantauan Jawa Pos Radar Malang, lama pengerjaan selimut fondasi sisi selatan dikarenakan medannya sulit terjangkau. Saat membangun selimut sisi utara, material bisa turun ke lokasi secara langsung. Tapi saat menggarap sisi selatan, material bisa turun ke lokasi secara langsung. Tapi saat menggarap sisi selatan, material tidak bisa masuk ke lokasi. Pekerja lebih dulu harus mengangkat material menggunakan karung dari utara sungai, lalu menyeberang sungai menuju ke sisi selatan.

“Ngangkut materialnya itu kan butuh waktu. Sama saja pengerjaan dua kali,” kata Arifin ditemui di lokasi.

Setelah pembuatan pagar bendungan tuntas, pekerja langsung memasang bebatuan. Ketinggian selimut fondasi sekitar 6 meter dari dasar air sungai. “Pengerjaan selimut fondasi sisi selatan sudah berlangsung dua hari,” kata dia

Bersamaan perpindahan penggarapan dari sisi utara ke sisi selatan, juga dilakukan pengeprasan rumah warga di sisi selatan jembatan.

Tapi warga sekitar sudah mengetahui risikonya dan menyetujui pelebaran jembatan. Bahkan, pelebaran jembatan juga inisiatif dari warga sendiri. “Biar jalannya lebih lebar, tidak masalah dikepras,” kata Sakri, warga Penanggungan, Kecamatan Klojen, yang rumahnya terkena pengeprasan akibat pelebaran jembatan.

Sakri mengatakan, awalnya, rumahnya yang tepat di sisi selatan jembatan itu terkena pengeprasan 25 sentimeter. Tapi Sakri mengajukan penambahan pengeprasan secara suka rela. “Sekarang dikepras 50 sentimeter. Agar jalannya tambah lebar Mas,” kata Sakri.

Proyek jembatan ini hasil kerja sama Jawa Pos Radar Malang dan Fakultas Teknik UB. JEmbatan sepanjang 45 meter itu diperkirakan menelan dana Rp 1,4 Milliar. USai dibangun, dampaknya tidak hanya mempermudah warga sekitar. Tapi juga memperlancar arus lalu lintas di jalur satu arah lingkar UB. Sebab, warga Jalan Cokelat yang ingin menuju Jalan Bandung, Jalan Brigjend Slamet Riyadi dan kawasan Ijen, tidak perlu berputar lewat Jalan Soekarno-Hatta. Tapi bisa melintasi JEmbatan Betek-Tembalangan dan tembus di Jalan Mayjend Panjaitan. (dan/c1/abm)

Sumber: Jawa Pos Radar Malang terbit Minggu 15 Juni 2014 hal. 29 dan 39