galerifoto galerivideo
  • Tim Brawijaya mulai merakit model bangunan tahan gempa

Partnership

logo wika kecil logo polri kecil logo jatim kecil logo nindya karya kecildepartemen-pekerjaan-umum

Tim Teknik Sipil UB Hat-trick Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) 2014

image_pdfimage_print

Selama tiga tahun berturut-turut (hat-trick), Universitas Brawijaya () menjadi juara umum dalam Kompetisi  (KJI) sejak 2012. Dalam  bergengsi ini, UB mengirim 13  jurusan sipil dan berhasil memboyong piala terbanyak dibanding kampus lainnya.  

M. Bahrul Marzuki

Tiga belas mahasiswa jurusan sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB) tampak semringah saat ditemui di sebuah kafe di , belum lama ini. Ya, mereka baru saja menerima predikat Juara Umum Kompetisi Jembatan Indonesia yang dihelat pada 21–23 November lalu di kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Dalam KJI ke-10 itu, mereka membawa pulang 14 piala dari kontes bergengsi tersebut. Satu dari 14 piala yang dibawa memiliki ukuran cukup besar. Piala berwarna kuning dengan ukuran jumbo tersebut merupakan Piala Reka Cipta Titian Indonesia. Piala dengan model orang membawa jembatan tersebut dipastikan akan berada di ruang rektorat. ”Ini piala spesial, hanya kami yang mendapatkan karena kami menjadi juara umum,” jelas Aristo Yonghy Robertus, mahasiswa semester lima jurusan sipil UB, salah satu tim jembatan peserta KJI.

Tim UB berhasil hat-trick sebagai juara bertahan sejak KJI 2012 lalu. Artinya, tim UB berhasil mempertahankan  juara umum selama tiga tahun berturut-turut. Ini sudah untuk yang ketiga kalinya mereka menggondol juara umum. ”Kami berhasil keluar sebagai juara umum dari 16 perguruan tinggi negeri/swasta di Indonesia yang mengikuti  yang diadakan Kementerian Ristek dan  ini,” kata Yonghy.

Saat itu, lanjut Yonghy, ada 35 tim teknik sipil yang masuk dalam kategori finalis. Mereka berasal mulai dari Institut Tekhnologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Indonesia (UI), Universitas Mataram (Unram), dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selaku tuan rumah, sedangkan UB mewakilkan empat timnya.

Hasilnya tidak sia-sia. Dari empat tim yang dikirim FT UB, minimal mereka keluar sebagai juara tiga. Untuk kategori jembatan beton ringan yang beranggotakan Aristo Yonghy Robertus, Moch Hadi Sasmita, Ferry Singgih, dan Christoforus Aditya menyabet juara pertama. Lalu kategori jembatan baja yang beranggotakan Ichvan Danny, Rifqi Eka, Atou’rrahman, dan Arif Lukman mendapat juara kedua. Lalu, kategori jembatan busur yang beranggotakan Ika Meisy dan Dhita Rizki juga keluar sebagai juara dua. Sedangkan kategori kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) yang timnya terdiri dari Ahmad Akbar, Aditya Priambudi, dan M Ridho Arroniri mendapatkan juara III.

Sebanyak 13 mahasiswa ini merupakan asisten tugas besar fakultas sipil. Mereka sangat kompak, mulai dari mendesain hingga membuat jembatan di KJI. Sekretaris Jurusan Teknik Sipil Ir Siti Nurlina MT menjelaskan, para mahasiswa tim KJI ini memang sejak awal bertekat untuk mempertahankan juara yang diperoleh tahun sebelumnya. ”Kami berhasil kembali menjadi juara karena mendapatkan 13 piala. Ini yang terbanyak dibanding perguruan tinggi lainnya,” kata Lina, demikian Siti Nurlina biasa dipanggil.

box tim teknik sipil UB

Salah satu tim yang keluar menjadi juara pertama adalah tim untuk kategori jembatan beton ringan. Tim yang beranggotakan empat orang tersebut dipimpin oleh Yonghy. Yoghy mengatakan, bahan yang berasal dari semen biasa yang kemudian dijadikan beton, batu apung, bambu, dan juga rotan. Dia menyiapkan berbagai kebutuhan tersebut semenjak 1,5 bulan lalu. Termasuk juga dengan latihan bongkar pasang serta menguji kekuatan jembatan.

Jembatan yang dibuat oleh Yonghy beserta tiga temannya keluar sebagai yang terbaik karena memiliki kriteria kokoh, ringan, dan awet. Jembatan lebih kokoh dibanding milik peserta lainnya, tercepat dalam merakit, memiliki implementasi yang baik, serta dilengkapi kesehatan, keselamatan, dan kerja (K3) terlengkap.

Jembatan memiliki panjang tiga meter dengan lebar 80 cm. Untuk berat jenisnya sekitar 19 kilogram. Jembatan yang diberi nama Petung Meluwung ini menyabet empat piala dari lima piala yang diperebutkan. Sehingga, akhirnya mutlak keluar menjadi juara pertama.

Saat tampil dalam lomba, para mahasiswa menunjukkan totalitasnya. Walaupun tidak memiliki potensi bahaya yang besar, mereka tetap menggunakan pakaian keselamatan lengkap. Seperti helm, kacamata, sapu tangan, dan menggunakan sepatu boots juga.

Bahan-bahan yang sudah disiapkan lanjut dipasang satu demi satu saat lomba berlangsung. Untuk memasangnya tidak boleh secara manual. Tapi harus menggunakan mesin loncher. Dengan persiapan yang matang dan latihan rutin, jembatan bisa terpasang dalam waktu 50,22 menit. Mereka tampil lebih cepat dibanding peserta lainnya. Setiap peserta diberi waktu selama dua jam oleh panitia.

Yonghy mengungkapkan, usai memasang jembatan hingga tuntas, selanjutnya adalah waktu yang menegangkan. Kekuatan jembatan diuji melalui beban 500 kilo menggunakan alat hidrolit checking. Beban ini ditaruh tepat di bentang tengah jembatan.

Jika jembatan mengalami retak atau memiliki lendutan hingga 4 milimeter, peserta akan langsung didiskualifikasi. Beruntung, lendutan jembatan hanya mencapai 2,2 milimeter saja. ”Biar pun bagus atau cepat merakitnya, kalau retak langsung didiskualifikasi,” kata Yonghy.

Disinggung mengenai nama Petung Meluwung yang dipilih, Yonghy mengatakan, nama itu terinspirasi dari bambu petung yang kuat dan antihama. Sedangkan meluwung diambil dari akronim, megah, luhur, awet, dan unggul. ”Harapannya jika dilaksanakan bisa sesuai dengan namanya,” kata Yonghy.

Dia menambahkan, jika dibuat dalam bentuk asli, jembatan memiliki besar sepuluh kali lipat. Dengan panjang 30 meter dan lebar delapan meter. Jembatan ini bisa digunakan untuk pejalan kaki serta motor saja.

Hasil kerja keras mereka ini mendapatkan apresiasi materi sebesar Rp 12.000.000 sebagai uang pembinaan dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). (dilengkapi tristania dyah/*/c3/lia)

Sumber : radarmalang.co.id

Translate »