galerifoto galerivideo
  • Tim Brawijaya mulai merakit model bangunan tahan gempa

Partnership

logo wika kecil logo polri kecil logo jatim kecil logo nindya karya kecildepartemen-pekerjaan-umum

Sakura 2017 : Exchange to Japan

5Student exchange atau pertukaran pelajar ke luar negeri merupakan hal yang sangat diidamkan oleh mahasiswa. Banyak pengalaman yang bisa dipetik ketika mengikuti program tersebut. Tidak hanya ilmu yang didapat, tetapi pengalaman untuk tinggal di luar negeri dan berbicara bahasa lokal juga akan dirasakan.

Pada akhir bulan Oktober 2017 lalu, dua mahasiswa S1 Teknik Sipil berkesempatan untuk pergi ke Negeri Sakura untuk mengikuti serangkaian kegiatan Sakura Exchange Program in Science. Program ini merupakan program pertukaran jangka pendek yang bertujuan untuk meningkatkan ketertarikan anak muda di Asia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi di universitas Jepang, lembaga penelitian dan perusahaan pribadi. Sakura Program ini di selenggarakan oleh Japan Science and Technology Agency (JST).

3Asti dan Alifinia beserta 4 mahasiswa S1 Teknik Lingkungan, 4 mahasiswa S2 Teknik Pertanian dan satu dosen pendamping yaitu Dr. Eng. Akhmad Adi Sulianto, STP, MT, M.Eng dari Teknik Lingkungan, yang lebih dikenal dengan panggilan Pak Adi, tiba di Bandara Internasional Haneda, Tokyo pada tanggal 29 Oktober 2017. Rangkaian kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 29 Oktober – 6 November 2017 di dua kota, yaitu Tokyo dan Miyazaki. Di Haneda, peserta dijemput oleh Murakami Sensei. Murakami Sensei adalah dosen di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Miyazaki. Beliau akan mendampingi peserta selama 10 hari di Jepang.

1Peserta menginap di Tokyo selama 3 hari 2 malam di daerah Kamata, Ōta City, Tokyo. Pada hari yang sama dengan kedatangan, peserta langsung mengunjungi National Museum of Emerging Science and Innovation atau di Jepang lebih dikenal dengan nama Miraikan. Miraikan adalah tempat dimana kita dapat memahami hal yang terjadi di dunia saat ini dari sudut padang ilmiah. Miraikan  juga memberikan kesempatan bagi pengunjungnya untuk menikmati sains dan teknologi dalam perkembangannya. Inovasi yang dilakukan tidak hanya pada satu disiplin ilmu saja, melainkan dari berbagai macam disiplin ilmu dapat dipelajari di sana. Pemanfaatan teknologi dalam ilmu sosial dan ilmu alam disajikan dalam praktik dan penjelasan yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan dari semua umur.

2Pada hari kedua, peserta pergi ke daerah Tsukuba untuk mengunjungi National Research Intitute of Public Works. Tempat untuk melakukan studi berkualitas tinggi sebagai lembaga inti dalam penelitian lingkup Teknik Sipil di Jepang. Serta tempat penelitian bagaimana Jepang mencegah dan mengatasi bencana-bencana alam yang terkait dengan infrastruktur. Beberapa diantara becana alam tersebut adalah banjir, gempa bumi dan tsunami. Peserta dijelaskan mengenai upaya pembuatan tanggul yang prevetif agar daya destruktif tsunami menurun. Lalu kunjungan singkat ke laboratorium bencana, peserta diperlihatkan cara mensimulasikan ketinggian gelombang tsunami. Dilanjutkan dengan kunjungan lapangan mengenai prototipe insfratruktur jalan tol Jepang dengan kemiringan jalan dan degree belokan tertentu agar mobil mempunyai daya belok sendiri yang kemudian disimulasikan. Kemudian peserta mempelajari struktur plumbing tata kota yang merupakan sistem drainase perkotaan bawah tanah yang dilengkapi dengan mesin photo detector keretakan beserta kuat arus aliran airnya. Terakhir, peserta ditunjukkan struktur jembatan yang sudah mengalami failure dan sudah tidak digunakan lagi di Jepang.

4Keesokan pagi harinya, peserta melakukan perjalanan ke Miyazaki dengan pesawat dari Bandara Haneda. Pada hari yang sama, peserta langsung menuju University of Miyazaki (UoM). Di sana peserta disambut oleh Murakami Sensei di Faculty of Engineering. Setelah itu peserta menuju ke Head Office President University of Miyazaki untuk menghadiri Welcome Ceremony. Pada pembukaan Welcome Ceremony peserta disambut oleh Tsuyomu Ikenoue Sensei. Peserta bertemu dengan Dean of Faculty of Engineering, Prof. Mitsuhiro Yokota, yang melakukan pembukaan resmi Sakura Program ini. Malam harinya, diadakan Welcoming Party oleh mahasiswa S2 dan S3 University of Miyazaki asal Indonesia, bersama Pak Adi dan Murakami Sensei.

9Hari ke empat dan ke lima, peserta diberi kesempatan untuk merasakan kegiatan belajar mengajar di University of Miyazaki. Terdapat 4 kelas dalam kuliah singkat ini yang diisi oleh professor dari UoM. Kelas pertama disampaikan oleh Prof. Mitsuki Irie ahli Hydrological Eng. yang membahas tentang Comprehensive Watershed Management. Kemudian kelas kedua diisi oleh Prof. Masahiro Tasumi dari Department of Forest and Enviromental Sciences yang membahas tentang Sustainable Water Resources Management. Kelas ketiga diisi oleh Prof. Keisuke Murakami ahli Coastal Eng. yang membahas tentang Flood Control and Coastal Area Management. Kelas terakhir diisi oleh Prof. Akira dari Kyushu University yang membahas tentang Water Quality Problems on Watershed and Closed Bay.

Hari ke enam, peserta melakukan kunjungan lapangan ke lokasi pembangunan bendungan di Sungai Mimikawa, Kyushu, yang dimiliki oleh KEPCO. Peserta hanya mengunjungi tiga bendungan, diantaranya Yamasubaru Dam, Saigou Dam dan Oouchibaru Dam. Jumlah total bendungan pada sungai ini adalah 7 bendungan yang masing-masing berfungsi sebagai penggerak turbin generator listrik. Diantaranya, Kamishiiba Dam, Iwayado Dam, Tsukabaru Dam, Morotsuka Dam, Yamasubaru Dam, Saigou Dam dan terakhir adalah Oouchibaru Dam. Namun, yang beroperasi untuk menggerakkan turbin generator listrik hanya 4 bendungan.

Sungai Mimikawa ini menyediakan 20% kebutuhan listrik di daerah Kyushu. Tetapi, pada tahun 2005, terjadi banjir bandang yang menerjang 424 rumah penduduk dan tanah longsor yang terjadi pada 491 titik. Beberapa bendungan pun ikut rusak akibat dari bencana alam ini. Ketika peserta berkunjung, di sana masih dilakukan pengerjaan rekonstruksi bendungan.  Bendungan yang sedang direkonstruksi adalah Yamasubaru Dam dan Saigou Dam. Bencana ini mengakibatkan terjadinya tanah longsor di bantaran sungai, membuat pohon-pohon yang berada di pinggir ikut terbawa oleh derasnya air sungai waktu itu. Pohon-pohon tersebut tersangkut pada beberapa bendungan yang menyebabkan bendungan harus dibangun kembali. Tanah yang longsor tersebut juga mengendap di beakang pintu air yang menyebabkan banjir semakin besar. Hal ini menyebabkan kondisi sistem di sungai Mimikawa yang buruk.

Renovasi bendungan ini memakan waktu yang terbilang lama. Dengan adanya pohon yang tersangkut, kesulitan yang dihadapi semakin besar. Akhirnya muncul solusi yaitu dengan tidak mengangkat pohon-pohon tersebut satu persatu tetapi membuat pohon tersebut tidak bergerak mengikuti aliran air sungai. Di sekitar pohon diberi pembatas dari pelat baja yang ditancapakn di dasar sungai, berbentuk seperti kubus yang menutup seluruh pohon. Sampai saat itu sudah lebih dari 10 tahun pohon tersebut berada di dalam kubus.

6Solusi yang ditawarkan dalam rekonstruksi bendungan ini adalah dengan mengubah desain dan perencanaan pintu air jembatan menjadi lebih besar dan lebih tinggi. Ada juga solusi lain yaitu memotong tinggi spillway sehingga sedimen-sedimen yang mengendap di belakang pintu air saat terjadi bencana tersebut dapat berpindah. Tujuan utama dari rekonstruksi ini adalah meningkatkan sistem kontrol banjir pada cekungan sungai.

Pada hari Sabtu tanggal 4 November 2017, peserta mendapat kesempatan untuk berkarya wisata di daerah Miyazaki. Peserta berkunjung ke Miyazaki Jingu Shrine dan Aoshima Jinja Shrine. Setelah itu peserta mengunjungi dan merasakan kehidupan desa petani selama satu malam. Peserta dapat mempelajari budaya tradisional Jepang, membuat makanan khas Jepang, bermain permainan tradisional Jepang serta mempelajari sistem pertanian dan peternakan di desa. Petani di Kobayashi hidup berkecukupan, setiap petani memiliki mobil yang cukup mewah dan beberapa diantaranya memiliki alat mesin pertanian yang canggih.

Kegiatan pada hari terakhir di Miyazaki, diawali dengan presentasi oleh masing-masing dari peserta di hadapan Pak Adi, Murakami Sensei dan peserta lain yang mengikuti program ini dengan pembahasan kegiatan apa saja yang telah dilakukan di Jepang selama 9 hari terakhir dan membandingkan cara kerja beberapa sistem di Jepan dengan yang ada di Indonesia. Dilanjutkan dengan Closing Ceremony oleh Dean of Faculty of Engineering, Prof. Mitsuhiro Yokota. Peserta diberi sertifikat, souvenir dan dimasukkan sebagai anggota Sakura Exchange Program in Science. Pada malam harinya, peserta kembali ke Tokyo menggunakan pesawat. Keesokan harinya, peserta pulang ke Indonesia. (Finia)

10

Translate »