Ditulis pada tanggal 7 Juli 2014, oleh Teknik Sipil FTUB, pada kategori Kliping Surat Kabar

betek2

Panitia Kesulitan Anggaran, Butuh Rp 1,4 M, Terkumpul Rp 520 Juta

MALANG KOTA- Proyek mulia pembangunan Jembatan Betek Tembalangan yang diprakarsai Jawa Pos Radar Malang bersama Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FTUB) terus menunjukkan progress. Kemarin (5/7), tim mulal membongkar jembatan. Pembongkaran jembatan dilakukan karena proses pengerjaan dasar sudah selesai. Di antaranya pembangunan dua selimut fondasi. “Mulai ngecor kepala jembatan landasan rangka baja di atas selimut fondasi,” ujar Ketua Tim Pembangunan Jembatan dari FT UB Ir. Sugeng P. Budio, MS kemarin.

Dana Lancar, Jembatan Bisa Selesai 2 Bulan Lagi

Sebelum mengecor kepala jembatan, lanjutnya, kerangka jembatan lama harus dibongkar. Pembongkaran kerangka besi hingga pengecoran diperkirakan membutuhkan waktu satu minggu. Dengan penuntasan pengecoran kepaia jembatan, kata dia, berarti kerangka baja jembatan baru siap dipasang. Tapi hingga kini Sugeng belum berani memesan kerangka baja jembatan lantaran anggaran pembangunan belum tersedia. Sebab, dan dana Rp 1,4 miliar untuk pembangunan jembatan yang dibutuhkan, saat ini baru terkumpul anggaran Rp 520 juta.

Semua dana yang dikumpuikan ini berasal dan swadaya masyarakat. “Kami berharap segera ada bantuan dan warga untuk pengadaan kerangka baja,” ucap pria yang juga Ketua Jurusan Teknik Sipil FT UB itu. Jika anggaran dan masyarakat mencukupi, Sugeng berjanji mampu menuntaskan secepatnya. Sebab, pembangunan selimut fondasi yang pengerjaannya membutuhkan waktu paling lama, sudah tuntas. Pembangunan jembatan bentang 4,5 meter yang saat ini dibangun hanya membutuhkan waktu 3-4 hari.

Untuk memasang kerangka baja hingga finishing, Sugeng menargetkan dua bulan. Dengan demikian, jembatan yang diyakini mampu mengurai kemacetan di Jalan Soekarno-Hatta tersebut bisa segera difungsikan. Selama proses pembongkaran jembatan, lanjut Sugeng, Jembatan Betek-Tembalangan tidak bisa dilintasi pejalan kaki.

Dengan demikian, warga Kelurahan Jatimulyo maupun Kelurahan Penanggungan yang kesehariannya melintasi jembatan, selama pengerjaan harus rela berputar.

Tapi jika ingin membangun jembatan alteratif, Sugeng mempersilahkan. Pihaknya siap membantu teknis pembangunan jika warga berminat. Hanya saja, untuk kebutuhan material dan tenaga kasar, Sugeng meminta bantuan wanga.

Sugeng mengatakan, pihaknya tidak mungkin membantu warga membuatkan jembatan alternatif, karena pembangunan Jembatan Betek-Tembalangan sendiri masih membutuhkan dana. “Harapan saya, ada partisipasi aktif dan warga untuk membuat jalan alternatif bambu,” katanya.

Sebagaimana dibenitakan, peletakan batu pertama pembangunan Jembatan Betek-Tembalangan di-launching 30 April lalu. (dan/fir)

Sumber: Jawa Pos Radar Malang terbit Minggu 6 Juli 2014 hal. 25 dan 35