Ditulis pada tanggal 30 October 2014, oleh Teknik Sipil FTUB, pada kategori Kliping Surat Kabar

jembatanbetek13

MALANG KOTA – Sentuhan teknologi dilakukan pada proyek mulia Jembatan Betek-Tembalangan. Tak hanya konstruksi bangunan yang kokoh, lampu yang sudah terpasang pun menggunakan LED otomatis. Sehingga saat malam hari, secara otomatis lampu akan menyala sendiri. Sebaliknya, saat siang hari, lampu juga otomatis mati sendiri tanpa harus ada petugas yang mematikannya.

Ketua tim pembangunan Jembatan Betek-Tembalangan Ir Sugeng P Budio MS mengatakan, sisi utara dan selatan jembatan tersebut sudah dipasangi lampu LED. Selain menambah keindahan, pemasangan lampu juga demi keselematan pengendara. “Sudah kami atur, lampu akan menyala sendiri pada jam-jam tertentu,” ujar Sugeng kemarin.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Malang, lampu terpasang di sisi gerbang utara dan selatan jembatan hasil swadaya tersebut. Meski pengerjaannya belum tuntas, tapi sudah dimanfaatkan warga. Beberapa warga Penanggungan yang menuju Jatimulyo melintasi Jembatan Betek-Tembalangan.

Sebaliknya, warga Jatimulyo yang hendak ke kawasan Penanggungan juga sudah melintasi jembatan tersebut. Padahal, proyek mulia yang diinisiasi Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB) kerja bareng Jawa Pos Radar Malang itu masih belum selesai pengerjaannya.

Saat ini, masih dalam tahap pengeringan cor landasan. Karena pengecoran stamp (landasan miring di pintu jembatan) belum kering, hanya pejalan kaki yang diperbolehkan untuk melintas. Untuk pengendara diperbolehkan melintas di landasan yang sudah diasapal. “Pengaspalannya digarap pada 4 November mendatang,” ujar Sugeng.

Sugeng mengatakan, pengeringan cor landasan membutuhkan waktu tiga minggu. Usai pengecoran, langsung diaspal, lalu pengerjaan finishing. Seperti pengecatan konstruksi rangka baja antikarat. “Pengaspalannya gak butuh waktu lama. Paling hanya dua hari selesai,” kata dosen yang sudah malang melintang di dunia jembatan itu.

Mengenai pengoperasiannya, Sugeng menyerahkan sepenuhnya pada FT UB maupun pihakJawa Pos Radar Malang. Dia hanya bertugas merampungkan pengerjaan jembatan, sehingga layak dioperasikan. Yang jelas usai penegecatan, sudah tidak ada pekerjaan yang digarap lagi.

Sebagaimana diberitakan, Jembatan Betek-Tembalangan merupakan proyek pertama kali yang dibangun dari dana swadaya masyarakat. Sesuai perencanaan, jembatan yang bisa mengurai kemacetan arus lalu lintas di jalan Soekarno-Hatta itu menghabiskan dana sebesar Rp. 1,4 milliar.

Penggalangan dana dilakukan Jawa Pos Radar Malang, sedangkan FT UB bertanggung jawab di bidang konstruksinya. Dan hingga saat ini, dana masuk dari pembaca Jawa Pos Radar Malang hampir Rp 1,5 milliar. Jawa Pos Radar Malang juga masih terus membuka donasi.

Peletakan batu pertama jembatan ini dilakukan pada 30 April 2014 lalu dengan dihadiri Wali Kota Malang Moch. Anton. Dalam sambutan peletakan batu pertama, Anton mengucapkan terima kasihnya kepada pihak UB dan Jawa Pos Radar Malang. Sebab, jembatan sepanjang 45 meter itu diyakini menjadi solusi pengurai kemacetan di jalan Soekarno-Hatta.

Warga Jatimulyo yang menuju kawasan pusat kota tidak perlu melintasi Jalan Soekarno-Hatta. Namun langsung mengambil jalan pintas dengan melintasi Jembatan Betek-Tembalangan dan langsung sampai di Jalan Mayjen Panjaitan. (dan/c2/fir)

Sumber: Jawa Pos Radar Malang terbit Rabu 29 Oktober 2014 hal. 29 dan 39