Bahasa / Language :

logo wika kecil logo polri kecil logo jatim kecil logo nindya karya kecildepartemen-pekerjaan-umum

Disertasi I Wayan Yasa: Antisipasi Kekeringan Lebih Awal dengan Permodelan IKH

image_pdfimage_print

Salah satu pengampu Program Doktor di Jurusan Teknik Sipil Brawijaya, I Wayan Yasa dengan disertasinya berharap dapat mengantisipasi kekeringan lebih awal dengan permodelan indek kekeringan hidrologi (IKH)

i-wayan-yasa-2

Peristiwa kekeringan hampir terjadi diseluruh dunia dan berdampak pada semua sektor kehidupan yaitu pertanian, kesehatan,social, ekonomi dan sektor industri. Kekeringan merupakan suatu peristiwa dimana telah terjadi penurunan kuantitas sumber air secara ekstrim. Jenis kekeringan bermacam-macam tergantung dari faktor yang mempengaruhi siklus ketersediaan air diantaranya adalah kekeringan presipitasi, kekeringan klimatologi, kekeringan pertanian, kekeringan hidrologi dan kekeringan sosio ekonomi. Diantara beberapa jenis kekeringan, komponen kekeringan hidrologi lah yang sangat dibutuhkan karena digunakan untuk analisis dalam pemenuhan kebutuhan air seperti industri, kebutuhan air domestik dan pembangkit listrik tenaga air. Kenyataan yang terjadi kekeringan hidrologi berdampak sangat luas pada berkurangnya ketersediaan air permukaan, penurunan kualitas air, terbatasnya pasokan air irigasi dan mempengaruhi kegiatan sosial masyarakat.

I Wayan Yasa, Program Doktor Teknik Sipil , Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya, melalui disertasinya dengan judul Pemodelan Indek Kekeringan Hidrologi Berdasarkan Volumetrik Waduk berharap bahwa dengan adanya model indek kekeringan hidrologi Iway antisipasi dan monitoring terhadap kekeringan bisa dilakukan lebih awal.

Data yang digunakan dalam analisis yaitu data tinggi muka air waduk harian (H), perubahan volume waduk harian (Δs), arus masuk harian (I) serta arus keluar harian(O). Data yang berdasarkan perubahan pada waduk, arus masuk serta keluar merupakan hasil pengukuran harian.

Model persamaan pengembangan indek kekeringan hidrologi yang dihasilkan yaitu IKH = (Δs – Vtr)/Vman. Kriteria tingkat keparahan kekeringan dari pemodelan ini yaitu dengan kriteria keparahan kekeringan lemah jika defisit volume dari waduk Vd ≥ 51,5 % dengan indek kekeringan IKH  ≤ 0,51 , kriteria kekeringan moderat Jika defisit volume waduk sebesar 14,70 %  ≤ Vd  < 30,09 % dengan indek kekeringan -0,15  ≤ IKH  ≤ -0,31, kriteria kekeringan kuat dengan defisit volume waduk 30,09 % Vd < 51,5 % dan kriteria keparahan kekeringan -0,31s  ≤ IKH  ≤ -0.51, dan kriteria kekeringan sangat kuat jika defisit volume waduk Vd ≥ 51,5 % dengan indek kekeringan hidrologi IKHS ≤ -0,51.

Berdasarkan hasi pengembangan model indek kekeringan hidrologi (IKH) Iway identifikasi keparahan tingkat kekeringan hidrologi suatu wilayah sangat mudah dan tidak membutuhkan analisis yang rumit.

Dengan bimbingan dari Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS., Ir. Moh. Sholichin, MT., Ph.D., dan Dr. Ir. Ussy Andawayanti, MS., Wayan telah menempuh ujian terbukanya pada tanggal 5 Desember 2018.

“Sebetulnya nilai Pak wayan ini A bulat, tetapi sayang lulusnya agak melebihi batas sehingga tidak bias cum laude,” ujar Ketua Sidang, Dr. Eng. Yulvi Zaika, MT. (kik)